Sabtu, 07 Agustus 2010

Kisah Manusia Bicara dengan Ikan Paus

Armour mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan Paus Sperma. Andrew Armour, pengelola Taman Kubuli di kepulauan Karibia, Dominika dikenal sebagai “Pembisik Paus”. Ia mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan Paus Sperma, terutama paus jantan muda yang bernama “Scar.”

“Begitu berada dalam air, saya mencoba menghubungi mereka dengan membuat suara-suara bising di air. Itu suara yang sama sepanjang waktu sehingga mereka tahu ini saya,” katanya seperti diberitakan grindtv.com, 30 April 2010.

Armour mengatakan, “Saya berbicara dengan mereka sepanjang waktu di air, dan mereka mulai datang.”

Armour telah dikenal ‘Scar’ sejak paus muda itu berenang mendekati kapalnya. Ia memiliki ciri khas luka di kepala dan sirip punggung. Ketika itu, Armour membuat senandung dan suara untuk berkomunikasi dengan Scar.

Pada Januari, Scar yang berusia 10 tahun itu datang kembali, bahkan untuk pertama kalinya hadir bersama beberapa paus lain yang jauh lebih muda. Namun, pada Februari, Scar tak lagi muncul.

“Saya merasa itu cara dia memperkenalkan kita kepada anak-anak lainnya, sekaligus untuk mengatakan selamat tinggal,” kata Armour.

Paus Sperma (Physeter macrocephalus) adalah hewan terbesar dalam kelompok paus bergigi sekaligus hewan bergigi terbesar di dunia. Dinamakan Paus Sperma karena ada bahan putih susu spermaceti di kepalanya yang semula dikira sperma. Kepala Paus Sperma tergolong besar. Hidup mereka cenderung berkelompok.

Kemunculannya pernah ditulis dalam novel “Moby-Dick” oleh Herman Mellville, seorang penulis novel terkenal. Untuk meyakinkan kisah Armour itulah, Herman Melville datang ke Dominika dan turut berenang dengan ikan paus.

Paus sperma, dulunya berjumlah sekitar 1,1 juta secara global. Kini berjumlah sekitar 360.000. Di Dominika, seperti populasi lainnya, betina dewasa dan paus muda tidak bermigrasi. Pejantan dewasa hanya berkunjung selama musim kimpoi pada musim dingin.

Pejantan muda meninggalkan unit keluarga mereka pada usia 9 tahun dan bermigrasi ke utara dan selatan. Mereka baru kembali untuk berkembang biak setelah mereka jauh lebih tua.

Orang-orang seperti Armour mempelajari “monster laut” besar – yang tanpa belas kasihan diburu di seluruh penjuru dunia – meskipun sesungguhnya ikan ini bisa jinak dan terkadang ramah dengan manusia.

“Para paus mendatangi kami, berteman dan berinteraksi dengan kami,” kata Peter G. Allinson, seorang dokter di Baltimore yang telah beberapa kali datang ke Dominika. Lokasinya terletak di antara pulau milik Prancis, yakni Martinique dan Guadeloupe.

Pertemuan terbaik adalah ketika paus bersosialisasi antara mereka sendiri. “Kemudian, mereka datang dan bermain bersama kami,” kata Allinson.

Beberapa dari mereka akan menggosok-gosokkan badan ke anda, berharap anda balik menggosok mereka. Beberapa dari mereka membiarkan anda menggosok perut mereka. “Ini cukup menarik.”

Foto Allinson telah muncul di majalah National Geographic dan memenangkan kontes foto. Ia tidak membagikan foto. Tetapi sebagai pendukung organisasi Pelindung Paus, ia mengizinkan mereka menggunakan kisah ini.

Allinson berharap itu akan meningkatkan kesadaran bahwa paus adalah hewan yang sangat cerdas dan sangat ramah. “Mereka tidak boleh diburu.”

Foto yang diambil oleh fotografer profesional baru-baru ini juga telah muncul di berbagai website. Akibatnya, paus Dominika tiba-tiba tidak lagi rahasia.

“Rahasia itu kini sudah keluar,” kata Armour. “Rahasia yang dimaksud adalah ini adalah tempat terbaik untuk melihat ikan paus, letaknya dekat ke Amerika Utara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar